Cara Paling Jitu Merubah Nasib Buruk

Prolog :
Yadisam labhate bijam
Tadisam labhate phalam
Kalyanakari ca kalyanam
Papakari ca papakam
Sesuai dgn benih yang telah ditabur
Begitulah buah yang akan dipetiknya
Pembuat kebaikan akan menerima kebaikan
Pembuat kejahatan akan menerima kejahatan
(Samyuta Nikaya, 1.293)
Artikel ini saya tulis utk menambah wawasan ttg nasib, takdir, dan bagaimana merubahnya. Tulisan ini sekedar berbagi pencerahan untuk yang berminat, bagi yang tak berminat  ga usah dibaca. Tentu saja nuansa Buddhisme nya cukup kental, namun aplikasinya universal dan bisa dilakukan siapapun dan dimanapun.
Mari kita mulai.
Banyak orang yang menghadapi berbagai rintangan dlm perjalanan hidupnya. Kegagalan dalam usaha atau kegagalan dalam perkawinannya maupun penderitaan karena penyakit. Dalam perjalanan hidup ini banyak sudah kita saksikan orang miskin menjadi sukses dan kaya namun tak kalah banyaknya orang sukses yang mengalami kegagalan dalam hidup. Manusia benar-benar terikat kuat oleh nasib yang telah ditakdirkan. Segala kesuksesan, kegagalan, kegembiraan dan kesedihan, pertemuan dan perpisahan, berbagai macam pengalaman semuanya dikendalikan oleh nasib dan takdir. Sedikitpun tak bisa meloloskan diri dari nasib yg telah di takdirkan. Tak sedikit orang berusaha merubah nasibnya namun lebih banyak yg tak tahu bagaimana dan apa prinsip utama merubah nasib. Dan memang tak mendapatkan cara yang tepat hingga akhirnya menjadi sia-sia belaka.
Jadi bagaimana utk merubah atau memperbaiki nasib yang telah di takdirkan? Untuk menjawabnya pertama-tama harus mengetahui lebih dulu bagaimana terjadinya  “Nasib yang baik dan buruk itu”. Dan yang paling penting diketahui adalah “Siapa yg berperan dalam menguasai Nasib?”
Ada yang bilang bayi begitu dilahirkan dan meninggalkan rahim ibundanya, lalu menangis, saat itu juga telah ditentukan nasibnya. Itu sebabnya para peramal nasib meramal berdasarkan hari dan saat lahir itu. Bahagia tidaknya hidup ini tergantung pemberian PENGUASA (pemeran pokok yg menguasai itu ternyata NASIB manusia). Padahal jarak antara kaya dan miskin sangat besar skalanya. Jadi anugerah PENGUASA bukankah sangat tidak adil?
Bagi yg melarat, terkadang bertanya padaNya,”Mengapa orang lain berjaya dan selalu berhasil sedangkan aku terlunta-lunta?”

Bagi yang gagal perkawinannya dikala gelisah dan tak bisa tidur akan bertanya pada diri sendiri,”Mengapa orang lain hidup rukun bahagia sampai tua sedangkan aku di sia-siakan?”
Bagi orang yang dirong-rong penyakit, dlm penderitaannya dan saat melihat orang yang sehat akan bergumam sedih pada dirinya,”Mengapa orang lain sehat berusia panjang, sedangkan aku senantiasa bergulat dengan penyakit?”
Ada yg membaca koran melihat musibah tak terduga, menarik nafas panjang dan berucap,”Mengapa ia mendapatkan pengaturan Tuhan yg sedemikian tak beruntung?”
Berbagai pertanyaan semacam ini secara umum akan dijawab oleh para peramal nasib dengan “ Teori Im Yang Wu Sing”. Katanya, hal ini telah ditakdirkan karena “waktu lahir yang baik/jelek”. Tetapi adakah orang yg mempersoalkan lebih jauh “Mengapa ada orang yg waktu lahirnya baik dan ada pula yg buruk?” Apakah demikian tidak adilnya suratan takdir? Untuk mempelajari sumber/cikal bakal teori nasib ini secara tuntas, harus mengerti “Tri Masa Karma” dalam ajaran Sang Guru Agung Sidharta Gautama.
Lantas apa hubungannya “Tri Masa Karma” dengan “Nasib” ? Tentu saja erat hubungannya karena teori nasib mendasarkan diri pada hubungan “Sebab dan Akibat”. Tri Masa Karma satu-satunya cara meneropong saat sebelum kelahiran pada masa kini, dapat dimengerti dgn jelas tentang satu siklus yaitu “Sebab” pada sebelum kelahiran di masa kini dan “Akibat” setelah dilahirkan. Demikianlah “sebab akibat” ini berlangsung sehingga terjadi “Masa lalu”, “Masa kini”, dan “Masa yg akan datang”. Jadi satu-satunya cara memperbaiki nasib adalah berdasarkan hukum perputaran ini.
“Untuk mengetahui sebab pada masa yg lalu, lihatlah apa yg diterimanya pada masa kini, itulah Sebabnya. Untuk mengetahui Akibat pada masa yg akan datang, lihatlah apa yang diperbuatnya pada masa kini, itulah Akibatnya”. Itulah 4 baris ayat suci yang paling bersifat prinsipil dari kitab “Sebab akibat” dalam Buddhisme.
Dalam dunia terdapat manusia yang berhati kejam, tangannya menggenggam senjata dan membunuh tanpa rasa kasihan, tanpa rasa sesal, dilakukan sendiri atau menyuruh orang lain sama saja timbangan karmanya. Setelah meninggal ia akan dilempar ke alam neraka dan disiksa, setelah usai hukumannya akan lahir kembali ke dunia. Andai berwujud manusia ia akan berumur pendek, atau berpenyakitan, tak ada hari-hari gembira dan bahagia. “Karena sebabnya membunuh akan berumur pendek”.
Dalam dunia terdapat manusia berhati baik, tidak menggenggam senjata, tidak membunuh dan penuh dengan hati yg welas asih dan punya rasa menyesal. Setelah meninggal ia akan masuk ke alam Dewa dan mendapatkan kebahagiaan, setelah jasa pahalanya habis akan terlahir kembali ke dunia manusia dgn usia yg panjang. “Karena sebabnya tidak membunuh maka mendapat akibat berusia panjang”.
Ada manusia yg menggunakan tongkat dan batu, memukul dan melukai makhluk hidup, ketika meninggal dunia ia akan disiksa dlm neraka, setelai usai masa hukumannya akan terlahir sebagai manusia dengan berpenyakitan. “Sebab karena melukai makhluk hidup akibatnya ialah berpenyakitan”.
Ada pula manusia yg sering timbul dendam, gusar dan sirik, banyak kesalahan dilakukan, ketika meninggal dunia akan disiksa di alam neraka, setelah masa hukuman usai akan terlahir kembali sebagai manusia berwajah buruk. “Karena  marah dan dendam maka akibatnya berwajah buruk”.
Ada manusia yg melihat orang lain mendapatkan keuntungan atau mendengar orang lain mendapatkan sesuatu yg menggembirakan, lalu ia menggunakan kekuasaannya menghalangi agar org itu tidak bisa mendapatkannya. Setelah meninggal akan masuk ke alam neraka, seusai masa hukuman akan terlahir jadi manusia dengan takdir “apa yg ia cita-citakan dan inginkan  sering tak tercapai dan banyak halangannya.” Karena menghalangi keberuntungan org lain Akibatnya adalah hambatan2 dalam perjalanan hidupnya.
Ada manusia yg tidak menghargai orang yg seharusnya ia hargai dan hormati, yg seharusnya ia rawat tapi tidak dirawat, sering timbul tinggi hati dan sombong. Ketika meninggal dunia ia akan disiksa di alam neraka dan seusai hukuman akan terlahir jadi manusia yang rendah dan tidak dihargai orang. Karena tidak menghargai org lain dan sombong akibatnya adalah menjadi orang yg rendah dan hina.
Ada manusia berhati kikir tidak mau membantu dengan materi pada orang miskin, pun tak mau mengobati dan memberikan obat pada orang sakit lagi miskin, atau berhati tamak ingin memiliki harta orang lain. Setelah meninggal akan disiksa di alam neraka dan andaikata terlahir berwujud manusia akan hidup miskin dan susah. Karena kikir dan tamak, akibatnya mendapat kemiskinan.
Ada manusia bermurah hati sering membantu orang miskin dengan materi dan sandang pangan, sering mengobati orang sakit lagi miskin, tidak tamak dan tak ingin memiliki harta org lain, ketika meninggal akan masuk ke alam Dewa. Setelah jasa pahalanya habis akan terlahir kembali menjadi manusia dengan harta melimpah. Karena tidak kikir dan tidak tamak akan mendapatkan akibat Kekayaan dan kemuliaan.
Demikianlah terjemahan beberapa contoh yg saya petik dari paritta “Keng Su Cen Ie Yu Bo Se Suo Wen Cing” yang menguraikan dengan jelas tentang hukum Karma.
Hukum karma itu adalah ADIL dan semua balasannya disebabkan oleh perbuatan kita sendiri. Ada juga siklus karma yg berwujud pada masa hidup ini. Setiap perbuatan yang dilakukan  akan langsung mendapat balasan di kehidupan yang sekarang. Ada pula yang setelah lewat beberapa masa kehidupan baru menerima Karmanya, hal ini ditentukan oleh banyak atau sedikitnya karma baik atau buruk yang dikumpulkan. Waktu perputaran balasan karma itu tidak sama, ada yg dlm bbrp tahun di masa ini sdh menerimanya, ada pula yg menerimanya setelah bbrp puluh tahun, ada pula yg menerimanya di masa kelahiran mendatang, ada pula yg setelah 2 atau 3 kelahiran mendatang baru mendapat balasannya.
Jangan lupa sebuah Hukum perputaran yg sangat penting :
Orang yg menanam terlalu banyak “Benih Kejahatan”, maka disebabkan hutang yg sangat berat kemungkinan orang ini akan dilahirkan sebagai hewan bertanduk pada masa mendatang utk bbrp kelahiran baru kembali berwujud manusia. Terkadang timbul pula gejala “Menetralisir” Hukum perputaran Karma, misalnya : Benih Kebaikan yg ditanam pada masa kelahiran yg lalu seharusnya masa ini akan menerima rejeki selama 10 tahun, namun karena masa kini ia menanam Benih Kejahatan, hal ini mengakibatkan rejekinya berkurang bbrp tahun. Sebaliknya jika pada masa lalu telah menanam Benih Kejahatan, seharusnya pada masa ini menerima karma jelek bbrp tahun, tetapi pada masa kini dia telah berbuat banyak sekali kebaikan, maka hukuman Karma itu akan berkurang pula bbrp tahun. Inilah hakekat dari “Nasib aku sendiri yg membuat, Rejeki aku pula yang mohon.”
Ini pula dasar pandangan memperbaiki Nasib. Ada yg bertanya, “Kalau gitu kan bisa saja kita buat jadi seimbang, setelah itu berbuat jahat lagi dan kemudian diimbangi lagi dgn perbuatan baik.”  Dan saya menjawab, “Apakah anda tau masih berapa banyak stok karma baik atau buruk anda? Masalahnya kita tak tau apakah semua itu sudah seimbang kadarnya. Lagipula menurut ajaran Buddha, kalau karma baik dan buruk kita sudah seimbang maka sudah berada dititik nol dimana tidak ada lagi kekuatan karma yg mendorong kita utk terlahir kembali. Itulah titik nol yang di sebut Nibbana.”
Jadi siapakah sebenarnya penentu Nasib? Benarkah Tuhan telah menetapkan Nasib manusia ada yg kaya dan ada yg miskin, ada yg mulia dan hina?
Jelaslah bagi kita dalam Hukum perputaran Karma telah menerangkan pada kita : Penentu Nasib yg sejati tak lain tak bukan adalah diri kita sendiri. Sebab semuanya adalah perbuatan kita dan ditanggung oleh kita sendiri. Tak ada yg namanya “penghapusan dosa”,  setiap karma tetap akan berbuah bila saatnya tiba.
Di jaman Dinasti Ming ada seorang yang “Pandai” memperbaiki nasib dirinya. Namanya Yuen Liau Fan. Dengan cara tak henti-hentinya  melakukan kebajikan ia telah merubah nasibnya yg “berusia pendek”, “tidak berketurunan”, dan “tidak berpangkat tinggi”, hingga kelak ia menjadi teladan bagi orang yg hendak memperbaiki nasib. Awalnya dia diramalkan usianya hanya sampai 53 tahun tak punya anak dan berpangkat rendah. Setelah 20 tahun semua yg diramalkan itu ternyata cocok sekali sehingga ia pun pasrah menerima nasibnya yg sudah di takdirkan. Namun suatu hari ia bertemu dengan rahib Yin Ku Tan Se dan menerima penjelasan ttg Karma, diterangkan pula ttg “Nasib kusendiri yg buat, Rejeki kusendiri yg mohon”. Dan beliau menganjurkan serta mendorong Tuan Yuen jgn menjadi kecil hati pasrah pada nasib.
Setelah mendapat pencerahan  dari Yin Ku Tan Se, ia bertekad merubah nasib buruknya, sehingga berlutut di depat arca Buddha, dengan sujud ia mengakui semua dosa-dosanya dan berjanji akan merubahnya, kemudian ia berjanji akan melakukan 3000 buah kebaikan dan mohon kenaikan pangkat. Selanjutnya ia mencatat semua laku kebaikan dan kejahatan yg dilakukan. Tak sampai 2 tahun walaupun 3000 buah kebaikan belum tercapai, ia sdh mendapat kenaikan pangkat. Terbukti ramalan pertapa Khong sdh tak tepat lagi. Namun Tuan Yuen kurang tekun melakukan amalnya, setelah 10 tahun baru 3000 buah amal kebaikan tercapai dan ia mendapat kenaikan pangkat lagi. Hal ini menyadarkan dia akan keuntungan melakukan dan memupuk kebaikan. Karena itu ia bersumpah akan melakukan lagi 3000 buah kebaikan, kali ini dia mohon dikaruniai anak. Dan benar, belum setahun isterinya melahirkan seorang putra. Isterinya sangat bijaksana membantu suaminya menolong fakir miskin atau melepaskan makhluk hidup, tiap hari rajin membaca paritta, meluaskan amal kebaikan, terkadang satu hari bisa mencapai 10 buah kebaikan yg dilakukan. 3000 buah kebaikan dicapai tak sampai 3 tahun. Selanjutnya mereka meneruskan amal kebaikan hingga mencapai 10.000 buah lebih. Tanpa memohon perpanjangan usia, ternyata usianya telah mencapai 74 tahun dan putranya lulus sarjana, menjabat posisi penting dalam propinsi.
Demikianlah kisah ttg Tuan Yuen yg berani bertobat dan tak berhenti melakukan kebaikan. Ini merupakan cermin bagi orang-orang masa kini dan selanjutnya utk mempelajari ttg Nasib, sekaligus membuktikan bahwa dgn rajin melakukan kebaikan dapat menciptakan Nasib baru bagi dirinya sendiri.
Dapatkah Perbaiki Nasib dgn Sujud memohon kepada Dewa dan Buddha?
Banyak orang bersujud memohon perlindungan Dewa dan Buddha, memohon banyak rejeki, keuntungan, mendapat anak, kesembuhan dari penyakit, mendapat jodoh, dan banyak lagi rupa-rupa permintaan. Dapatkah permohonan mereka dikabulkan? Untuk menyingkap tabir ini kita harus lebih dahulu mengerti hal berikut :
Apa sebenarnya sikap sejati dari memuja Dewa dan Buddha itu?
Setiap tahun menjelang hari kelahiran Dewa atau Buddha, banyak orang membanjiri kelenteng dan vihara, misalnya Dewi Kwan Im, Kelahiran seribu Buddha, Kelahiran Lao Cu, Kelahiran Chi Kung dll. Demikian banyaknya arus manusia yg bersujud memohon beragam permintaan. Saya percaya para umat ini 80% benar-benar bersujud,tapi berapa dari jumlah mereka yg benar2 mengerti makna “Keyakinan yg sesungguhnya” memuja Dewa dan Buddha.
Jika anda membunuh orang, merampok, korupsi atau menjual narkotik, setelah berhasil lalu membeli dupa, sesajian, lilin, kertas sembahyang dll, dan bersujud dengan khusyuk memohon Dewa dan Buddha melindungi, apakah Beliau akan mengabulkannya??
Jika biasanya anda tidak beramal, sesenpun tidak pernah menderma pada org miskin dan sakit, waktu memuja Dewa / Tuhan, anda menyediakan sesaji yg banyak, memohon usaha maju dan untung banyak, maka sampai lutut dan kepalamu lecet berdarah karena berlutut dan  menganggukkan kepala, apakah Dewa / Tuhan yg jujur dan tidak egois mau menerima “suapan” anda??
Sikap sejati untuk memuja Dewa/Tuhan dan Buddha seharusnya, adalah atas dasar “Kagum mengindahkan” dan “Terimakasih”. Misalkan anda memuja Dewi Kwan Im, anda harus berpikir bahwa Sang Dewi sgt mengasihi semua makhluk hidup, setiap saat mendengarkan penderitaan dan menolong semua makhluk. Kita harus dengan rasa “Kagum Mengindahkan dan Terimakasih” merangkapkan tangan utk menghormatiNya. Juga harus mempelajari dan melaksanakan 20 ajaran Welas Asih Dewi Kwan Im. Jika anda melaksanakannya dalam jangka waktu panjang dengan setulus hati, biarpun anda tidak memuja dan minta perlindungan dari Dewi Kwan Im, beliaupun akan tetap melindungi dan memberkahimu.
Berbagai Cara utk Menanam Benih Kebaikan
Bagaimana caranya menilai besar kecilnya “Bibit Kebaikan” yang ditanam? Adalah sebuah kesalahan pengertian bila melakukan amal kebaikan disamakan dengan “mengeluarkan uang”. Harus mengeluarkan uang baru bisa Beramal. Padahal ruang lingkup beramal sangat luas, ada amal dgn mengeluarkan uang misalnya mendirikan rumah sakit, sekolah, panti jompo, sedekah pada fakir miskin, mengobati dan memberi obat secara Cuma-Cuma, membangun jembatan dan jalan, menyumbang korban bencana kelaparan dan bencana alam. Mendirikan dan memperbaiki tempat ibadah, mencetak buku agama utk disebarkan secara cuma-cuma, membeli makhluk hidup (tanpa dipesan lebih dulu) utk kemudian dilepas, dll.
Adapula amal kebaikan yg tanpa “Keluar Uang”, misalnya tidak melakukan pembunuhan terhadap makhluk hidup (mengurangi dosa membunuh dlm dunia), menghapus dendam pada orang lain, menutupi kejelekan orang lain bahkan hanya mempopulerkan kebaikannya, menghapus segala pertentangan, mengumandangkan kebaikan dan kebijakan, menyingkirkan batu-batuan penghalang di jalan termasuk kulit pisang, pecahan kaca, menyeberangkan orangtua, anak kecil, penderita cacat, mengalah tempat duduk bagi wanita hamil dan orangtua, menolong sedapat mungkin org yg menderita sakit dlm perjalanan, menghibur dgn kata-kata org yg menderita penyakit berat, org yg frustasi, membantu terwujudnya cita-cita seseorang, membantu org lain agar sanak saudara dapat berkumpul kembali, membicarakan sejarah dan informasi agar orang terbebas dari kebodohan dan kelaliman, menasehati org membuang kemaksiatan agar menuju kebenaran, memaafkan kesalahan org secara sukarela membacakan Paritta utk org lain utk membantu menghindarkan bencana, menasehati org agar percaya “Hukum Sebab Akibat”, menyumbang darah utk menolong orang lain, dll.
Tingkat kesungguhan hati
Jelaslah bahwa beramal tidak pasti harus “Keluar Uang”, yg penting harus dengan “Sungguh” hati mengerjakannya. Percayalah bahwa didalam hidup ini, dimanapun banyak terdapat “Pintu menanamkan Kebaikan”, tergantung anda bersungguh hati melakukannya atau tidak.
Ada sebuah contoh ttg kesungguhan hati. Sikaya menyumbang 100 ribu, simiskin juga menyumbang 100ribu. Tentu saja benih kebaikan yg ditanam si miskin jauh lebih besar dari si kaya. Karena 100 ribu yg disumbangkan si kaya bagaikan sehelai bulu yg dicabut dari 9 ekor lembu, sebaliknya 100 ribu si miskin itu mungkin jatahnya utk makan beberapa hari. Oleh karenanya tingkat kesungguhan hati sangat jauh berbeda walaupun sama-sama duit 100 ribu.
Tingkat manfaat
Misalnya kebaikan yg dilakukan si A hanya seorang yg mendapat manfaatnya. Sedangkan yg dilakukan B banyak orang yg mendapatkan manfaatnya, tentu saja B jauh lebih unggul dari si A. Misalkan C seorang yg hidupnya tdk benar, gemar berjudi dan perbuatan maksiat lainnya. Hutangnya bertumpuk. Lalu A dgn uangnya melunasi hutangnya shg C tertolong dari tuntutan hukum. Sebaiknya B dgn tutur katanya memberi pengarahan dan nasehat, shg C sadar dan berjalan di arah yg benar dan selanjutnya C hidup bahagia. A dan B sama2 memberikan manfaat pada seseorang dan menanam karma Baik, tapi A hanya sementara memberi manfaat pada C sedangkan B utk selamanya memberi manfaat pada C. Jelaslah bhw pahala B lebih besar. Jadi belum tentu hanya dengan UANG barulah dapat melakukan Amal Kebaikan. Intinya, belum tentu hanya si kaya yg dapat berbuat amal, si miskin pun asalkan dgn Kesungguhan Hati melaksanakan pasti hasilnya akan melebihi si kaya.
Tidak jarang pula ada yg beramal baik tanpa mau diketahui orang lain, misal menyumbang si miskin tanpa menyebut namanya, secara diam2 menghapus dendam orang lain, secara diam-diam menghindarkan org dari bahaya. Benih kebaikan yg ditanam lebih besar, kebaikan yg dilakukan secara terpendam ini dinamakan Im Tek, dalam kitab suci Buddha disebut : Kebaikan Tanpa Wujud.
Cara Terbaik Beramal tanpa Mengeluarkan Uang Banyak
Berikut ini saya coba membagikan bbrp cara beramal besar yg “tidak mengeluarkan uang” atau hanya dengan sedikit dana. Menanam benih Kebaikan sgt banyak caranya, tapi banyak perbuatan amal harus ada kesempatan barulah dapat dilakukan. Misalnya menolong orang sakit, membantu perwujudan cita-cita seseorang, menyeberangkan org cacat / buta di jalan, dll. Kesempatan ini belum tentu setiap hari ada, jika anda bertekad memperbaiki nasib janganlah “menanti” datangnya kesempatan ini, sekarang jamannya “jemput bola” bukan “menunggu bola”. Kita yg harus mengambil inisiatif dan berusaha tak henti-hentinya barulah bisa secepatnya memperbaiki Nasib.
1. Membaca Paritta (Ayat suci)
Inilah cara terbaik tanpa biaya satu sen pun, baik si kaya atau miskin dapat melakukannya. Tapi harus dgn kepercayaan dan tekad. Harus dgn penuh kepercayaan dan kejujuran, terutama harus berlangsung lama, tak kenal lelah dan tak putus di tengah jalan baru bisa berhasil. Makin lama membaca Paritta makin besar hasilnya. Paritta adalah perahu utk menyeberangkan umatNya, jadi membacanya berarti naik perahu shg dapat menyeberangkan ke tepi yg lain. Kekuatan Paritta tidak nampak, jika lama membacanya dapat menghapus dosa diri sendiri, jika membacakan utk orang lain dlm jangka lama dapat menghapus dosanya agar mendapat kebahagiaan. Kekuatan Paritta dapat menghindarkan berbagai bencana dan malapetaka, juga penyakit dan derita, dapat pula merubah nasib buruk menjadi jalan yg lapang.
Misalkan dalam Paritta Dewi Kwan Im yg bernama Ta Pei Cou (Maha Karuna Dharani), Beliau pernah bersumpah dihadapan Sang Buddha :
Bila umat membaca paritta ini tetap jatuh berdosa ke tingkat tiga, Aku bersumpah tidak mencapai pencerahan sempurna.
Bila membaca paritta ini tdk melahirkan umat-umat yg yakin akan ajaran Buddha, Aku bersumpah tidak akan mencapai pencerahan sempurna.
Bila membaca paritta ini tdk mendapatkan Panna, aku bersumpah tdk akan mencapai pencerahan sempurna.
Bila membaca paritta ini semua permohonan dlm hidup tidak mendapatkan hasilnya, aku bersumpah tidak akan mencapai pencerahan sempurna.
Jelaslah bahwa sumpah dan janji Avalokiteshvara Bodhisatva ini tidaklah ringan.
Membaca paritta dilakukan setelah membersihkan tubuh dahulu, pilih tempat yang bersih tapi bukan kamar tidur atau kamar mandi/toilet. Membaca harus dgn hati tenang dan sabar, kedua tangan bersikap Anjali, mata terpejam dan konsentrasi dan jangan ingin cepat. Sambil membaca sambil mendengar dan mengendapkan setiap kata itu dlm hati, mencapai keadaan “Keluar dari mulut, masuk ke telinga, terpahat dlm hati”. Selesai membaca, terasa semangat bertambah, dlm hati penuh dgn Welas Asih dan batin terasa lebih cerah. Dalam membaca paritta harus membuang pikiran yg bukan-bukan. Memang awalnya susah berkonsentrasi, banyak pikiran mengganggu harus langkah demi langkah melatih diri lama kelamaan akan mencapai kata dan hati terpadu. Jika “Ada mulut tidak ada hati” atau “Mulut dan hati tdk bersatu” biar membaca sampai serakpun tidak akan berguna.
2. Melepaskan Makhluk Hidup
Cara ini juga baik utk memupuk amal kebaikan. Demi menikmati hidangan lezat, manusia berusaha memotong makhluk hidup sebanyak mungkin. Untuk kota Hongkong saja setiap hari berbagai hewan tidak kurang dari 1 juta dibantai dlm dapur dan rumah jagal hingga seluruh Hongkong penuh dgn hawa pembunuhan dan dendam, roh dan rasa dendam dari makhluk berjiwa ini lambat laun bertambah dan bertumpuk, tanpa sengaja akan mendatangkan bahaya bagi manusia. Maha Guru Yuen Yin Tan She dlm sebuah sajak larangan membunuh berkata : “Bila ingin mengetahui pertarungan senjata dlm dunia, dengarkan suara pada tengah malam di pintu rumah jagal”.
Makhluk hidup/hewan pun mempunyai jiwa dan roh, mengapa manusia harus makan daging si lemah secara paksa? Benarkah bhw mereka dilahirkan utk dibantai manusia? Tidak adakah hukum kehidupan alam bagi mereka? Tanpa memakan darah dagingnya, manusia tidak dapatkah hidup? Jadi, apakah manusia yg merupakan “Pimpinan semua makhluk” dibentuk atas dasar kelakuan yg kejam ini?
Bahkan Alkitab dlm kitab Kejadian tertulis kira2 seperti ini “Allah berpesan kepada Adam bhw tumbuh2an dan buah2an di taman Eden itulah yg menjadi makanan Adam”, tidak disebutkan bhw boleh menyantap ayam goreng atau ikan gurami bakar maupun sapi lada hitam.
Dalam keadaan sengsara saat para hewan dibantai, telah cukup membuktikan dendam kesumat mereka pada manusia, pun telah membuktikan kelaliman manusia. Sebaliknya bila ada yg dapat membuat mereka lolos dari kematian, memberinya jalan kehidupan, pastilah hati sanubarinya akan sangat berterima-kasih, ini pun dapat menunjukkan ke Welas-Asihan. Oleh karena itu orang yg memperhatikan beramal pasti akan melakukan “Pelepasan makhluk hidup”. Hal kebaikan yg tak berwujud ini tidak ternilai besarnya, terutama bagi orang yg sedang menderita penyakit berat yg sering berdoa utk kesembuhannya hal ini sangatlah penting. Tentu saja makhluk hidup ini dilepaskan sesuai habitat tempat tinggalnya, makhluk air asin dilepaskan di laut, makhluk air tawar dilepaskan disungai, burung harus dilepaskan ke hutan. Hal ini harus sering dilakukan, sebaiknya rutin dilakukan atau berjanji setiap bulan melepaskan bbrp ekor utk satu janji, tdk terbatas waktu makin cepat makin baik.
3. Berjanji tidak Makan Mahkluk Hidup atau Vegetarian
Ini pun satu cara beramal tanpa mengeluarkan uang (kecuali uang utk beli makanan harian). Belum tentu setiap orang dapat melakukan hal ini, dilihat dari perbedaan pekerjaan dan situasi setiap orang, harus pula dilihat kekuatan janji dan tujuan janji kita sendiri. Bagi yg berjanji harus manunggal kata dan perbuatan, bila melanggar akan lebih berat dosanya. Bagi yg berjanji, dilarang membunuh makhluk hidup apapun, dilarang pula berjanji utk memohon hal-hal yg buruk misalnya bagi yg memohon jodoh dilarang meminta istri muda, dilarang minta keuntungan dari judi, saham dll.
4. Secara langsung menolong Yatim Piatu
Walaupun harus mengeluarkan dana tapi tak mesti dlm jumlah banyak, disesuaikan dgn kemampuan kita. Sering terbaca berita dlm surat kabar menyerukan agar pembaca memberikan sumbangan bagi penderita bencana alam dsb. Atau menolong orang cacat dan sebatang kara, hingga pengemis di jalan. Atau seseorang yg sakit parah tanpa sanak saudara, sakit dan sengsara haruslah ditolong. Hal-hal menyedihkan semacam ini dapat ditemui dimana saja. Bagi org yg mempunyai hati simpatik pasti merasa iba dan kasihan, tak sedikit org yg tergerak hatinya lalu mengumpulkan sumbangan lewat berbagai media utk diteruskan ke tangan si penderita. Orang2 spt ini sedang melakukan “Sawah Kebaikan”, menanam benih kebaikan bagi masa depannya sendiri.
5. Mengunjungi Panti Jompo
Umumnya penghuni panti adalah orang sebatang kara, adapula yg berpenyakitan, dapat kita bayangkan kesunyian hati dan kesedihannya. Mereka membutuhkan kehangatan, kemesraan dan perhatian. Dikarenakan kemunduran fisiknya mereka tidak lagi terampil baik berjalan, berpakaian, makan dan minumpun sering mengalami kesulitan. Ada yg memakai pakaianpun terbalik dan tidak rapi, perlu bantuan org lain.
Jadi mengunjungi Panti Jompo merupakan pahala yg amat besar, dapat menanam benih baik yg tak terhingga. Jika anda pernah ke sana akan terlihat bagaimana mereka melangkah gontai dan tangan gemetar serta derai airmata, mereka menerima pemberian kita dgn kedua tangan keriputnya namun wajahnya tersungging senyum kepasrahan. Ada pula yg segera mengupas buah-buahan dgn tangan gemetarannya dan mengunyah dengan mulutnya yg telah ompong. Menyaksikan adegan menggembirakan dan mengharukan ini, disamping ikut menikmati kegembiraan mereka, anda dapat menyelami betapa besarnya benih kebaikan yg telah anda lakukan.
6. Mengunjungi Panti Asuhan
Dapat dilakukan sendiri atau beramai-ramai. Barang yg dibawa boleh beraneka ragam, makanan, mainan, pakaian, bacaan dll lalu dibagikan pada para yatim piatu. Para yatim piatu telah kehilangan kasih sayang ibu dan ayah dan kehangatan rumah tangga layaknya anak-anak normal lainnya. Dalam hati kecil mereka telah tergores luka kepedihan yg tak terhapuskan selama hidupnya. Apa yg mereka alami adalah musibah besar dlm kehidupan manusia, membutuhkan kehangatan keibuan dan hatinya membutuhkan hiburan serta pendidikan.
Dengan sedikit barang dan “Kasih Sayang”, kita menyebabkan mereka mendapat kehangatan yg dibutuhkan hatinya, tanpa sengaja kita telah menanamkan benih kebaikan. Bukankah menerima tawa dan kegembiraan mereka merupakan bukti beramal?
7. Menyumbang dgn mencetak buku berisi paritta atau buku-buku yg baik.
Paritta dan buku-buku ttg kebaikan merupakan perahu kasih yg menyeberangkan umat dari arungan kesengsaraan, yg disediakan oleh para Bodhisatva, mendorong penyebaran buku ttg Dhamma dan buku-buku ttg kebaikan berarti menyebarluaskan hati Welas Asih Buddha, pahalanya tidak terukur. Karma dari menyebarluaskan buku paritta dan buku-buku ttg kebaikan dapat mengendalikan perbuatan jahat orang-orang, merubah sifat si jahat kembali ke jalan yg benar, mengurangi kejahatan dlm masyarakat, dapat pula mendorong orang menambah persahabatan, saling mengalah dan bersabar menambah iklim kebaikan dlm masyarakat.
Mengapa Setelah Berbuat Baik / Perbuatan Baik mendapat Hasil Karma yg Tidak Sebanding?
Ada beberapa orang yg biasanya gemar menolong orang, keluar uang keluar tenaga tanpa imbalan, tapi setiap orang yg pernah ditolongnya tak lama kemudian menjadi musuhnya. Setelah mendapatkan manfaatnya, orang yg ditolong bukannya berterimakasih dan balas budi namun sebaliknya timbul rasa tidak puas, benci dan menyesalkannya. Orang-orang ini sering bertanya “Mengapa baik hati tidak mendapatkan balasan yg baik?”
Buddha bersabda :
Sesuai dgn benih yang telah ditabur
Begitulah buah yang akan dipetiknya
Pembuat kebaikan akan menerima kebaikan
Pembuat kejahatan akan menerima kejahatan
(Samyuta Nikaya, 1.293)
Pada masa kini banyak menerima kebencian dan dendam dari orang lain, pastilah pada masa lalu banyak membenci dan mendendam orang lain, tentulah akan mendapat karma yg sesuai. Jika karma ini telah usai diterima berarti hutang ini telah lunas dibayarnya, maka giliran benih kebaikan yg telah ditanam yg akan berbuah. Pada masa kini giat membantu orang lain, berarti telah menanam benih kebaikan utk masa yg akan datang, ini merupakan karma yg baik. Namun jangan lah menyangka kalau sdh berbuat baik dan menolong orang lain, lalu mengharapkan suatu imbalan darinya, ini adalah cara berpikir yg “Salah”. Perbuatan baik itu harus dilakukan dengan hati yang tulus sukarela dan setelah itu melupakannya.
Demikianlah tips yg hendak saya bagikan, saya sudah berusaha mempersingkatnya tapi ternyata masih panjang juga artikel yg dihasilkan. Mudah-mudahan anda tidak ngantuk membacanya.
**Semoga semua makhluk berbahagia dan terbebas dari semua bentuk penderitaan dan mencapai pencerahan sempurna**  Sadhu sadhu sadhu…
Regards,
C. Y.

Tidak ada komentar: